Kamis, 26 Oktober 2017

Makalah pneumotoraks

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pneumotoraks terjadi jika udara memasuki rongga pleura antara pleura viseral dan pariental sehingga menyebabkan kolaps paru persial atau komplet. Pneumotoraks merupakan penumpukan udara dalam rongga pleura sehingga timbul kolaps parsial atau total paru-paru. Kalau udara di antara pleura parietalis dan viseralis berkumpul dan menumpuk maka peningkatan tekanan dalam rongga pleura dapat menyebabkan kolaps paru yang berlangsung progresif.
Pneumotorak adalah keadaan terdapat udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru eluasa mengembang terhadap rongga udara pneumotoraks dapat terjadi secara spontan maupun traumatic. Pneumotoraks spontan dibagi menjadi primer dan sekunder, pneumotorak traumatic dibagi menjadi iatrogenic dan bukan itrogenik. (Barmawy. H)
Insidens pneumotoraks sedikit diketahui, karena episodenya banyak yang tidak diketahui. Pria lebih banyak dari pada wanita dengan perbandingan 5:1. pneumotorak spontan primer (PSP) sering juga dijumpai pada individu sehat, tanpa riwayat penyakit paru sbelumnya. PSP banyak dijumpai pada pria dengan usia antara 2 dan 4. salah satu penelitian menyebutkan sekitar 81% kasus PSP berusia kurang dari 45 tahun. Seaton dkk melaporkan bahwa pasien tuberculosis aktif mengalami komplikasi pneumotorak sekitar 2,4% dan jika ada kavitas paru komplikasi pneumotoraks meningkat lebih dari 90%. (Barmawy. H)
Di Olmsted country, Minnesota, amerika, meiton et al melakukan penelitian selama 25 tahun pada pasien yang terdiagnosis sebagai pneumotoraks, didapatkan 75 pasien karena trauma, 102 pasien karena iatrogenic da sisanya 141 pasien karena pneumotoraks spontan. Dari 141 pasien tersebut 77 pasien PSP dan 64 pasien PSS. Pada pasien pneumotorak spontan didapatkan angka incident sebagai berikut: PSP terjadi pada 7,4 per 100.000 pertahun untuk peria dan 2,0 per 100.000 tahun untuk wanita. (Barmawy. H)
Sesuai perkembangan dibidang pulmunologi telah sering dikerjakan pendekatan baru berupa tindakan torakostomi disertai video (video-assisted thoracostomi), ternyata memberikan banyak keuntungan pada pasien yang mengalami pneumotoraks relaps dan lama rawat inap di RS yang lebih sigkat.
1.2 Tujuan
Tujuan umum:
Diharapkan setelah mempelajari materi ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kita mengenai pneumotoraks. Juga sebagai tambahan bahan materi pembelajaran agar dapat lebih menguasai materi perkuliahan.

Tujuan khusus:
1. Untuk mengetahi definisi pneumotoraks
2. Untuk mengetahui etiologi pneumotoraks
3. Untuk mengetahui manisfestasi klinis pneumotoraks
4. Untuk mengetahui patofisiologi pneumotoraks
5. Untuk mengetahui komplikasi yang terjadi pada pneumotoraks
6. Agar mengerti pemeriksaan penunjang pada pasien pneumotoraks
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan pneumotoraks
8. Untuk mengetahui diet dan nutrisi pneumotoraks
9. Agar mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien pneumotoraks








BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana terdapat akumulasi udara ekstrapulmoner dalam rongga pleura, antara pleura visceral dan parinteral, yang dapat menyebabkan timbulnya kolaps paru. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga dada. (Rahajoe, 2012)
Pneumotoraks adalah kolapsnya sebagian atau seluruh paru yang terjadi sewaktu udara atau gas lain masuk ke ruang pleura yang mengelilingi paru. Terdapat berbagai jenis pneumotoraks; terbuka, spontan, dan tension pneumotoraks.
1) Pneumotoraks terbuka dan spontan
pneumotoraks terbuka terjadi apabila dinding dada terbuka dan udara dari atmosfir masuk kedalam ruang pleura. Tekanan atmosfir lebih besar dari tekanan pleura dan menyebabkan paru kolaps. Penyebab pneumotoraks terbuka adalah luka tusuk, fraktur iga dan trauma tembus pada dinding dada.
pneumotoraks spontan terjadi apabila dinding dada utuh tetapi paru secara spontan mengalami kebocoran atau cedera dan mulai membocorkan udara kedalam ruang pleura.  Pneumotoraks spontan sering terjadi pada pasien penyakit paru kronis yang berusia lanjut tetapi keadaan ini dapat pula ditemukan padaindividu muda yang bertubuh jangkung dan sehat.
2) Tension  pneumotoraks
terjadi apabila terdapat gerakan udara satu arah dari paru keruang pleura melalui lubang kecil di struktur paru. Pada keadaan ini, udara keluar  dari paru dan masuk keruang pleura sewaktu inspirasi. Tension pneumotoraks adalah keadaan yang mengancam keselamatan jiwa karena mengakibatkan peningkatan tekanan diruang pleura. Tekanan pleura yang meningkat dapat menyebabkan atelektasis kompresi yang luas. Pergeseran jantung dan pembuluh besar di rongga toraks juga dapat terjadi sehingga dapat mengakibatkan gangguan hebat pada fungsi kardiovaskular. Penyebab terjadinya tension pneumotoraks adalah luka tembus pada dada yang dirawat dengan pembalutan kedap udara, fraktur iga, oklusi atau malfungsi kateter dada.
2.2 Etiologi
a. Infeksi saluran napas
b. Adanya rupture ‘bleb’ pleura
c. Traumatic misalnya pada luka tusuk
d. Acute lung injury yang disebabkan materi fisik yang terinhalasi dan bahan kimia
e. Penyakit inflamasi paru akut dan kronis (penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), TB paru, fibrosis paru, abses paru, kanker dan tumor metastase ke pleura)

2.3 Manifestasi Klinis
a. Pasien mengeluh awitan mendadak nyeri dada pluritik akut yang terlokalisasi pada paru yang sakit
b. Nyeri dada pluritik biasanya disertai sesak napas, peningkatan kerja pernapasan, dan dispnea
c. Gerakan dinding dada mungkin tidak sama karena sisi yang sakit tidak mengembang seperti sisi yang sehat
d. Suara napas jauh atau tidak ada
e. Perkusi dada menghasilkan suara hipersonan
f. Takikardia sering terjadi menyertai tipe pneumotoraks
g. Tension pneumototoraks
- Hipoksemia (tanda awal)
- Ketakuatan
- Gawat napas (takipnea berat)
- Peningkatan tekanan jalan napas puncak dan rerata, penurunan komplians, dan auto-tekanan ekspirasi akhir positif (auto-PEEP) pada pasien yang terpasang ventilasi mekanis
- Kolaps kardiovaskular(frekuensi jantung>140kali/menit pada setiap hal berikut: sianosis perifer, hipotensi, aktivitas lintrik tanpa denyut nadi). (Morton,2012)


2.4 Patofisiologi
a. Narasi
Ruktur pada pleura viseralis atau parientalis dan dinding dada menyebabkan penumpukan udara yang akan memisahkan kedua pleura tersebut. Tekanan negatif dirusak dan gaya Recoiling paru yang lentur akan terpengaruh. Paru mengadakan Recoiling dengan cara mengalami kolaps kearah hilus. Pneumotoraks terbuka (yang juga dinamakan luka dada yang menghisap atau pnemotoraks komunikantes) terjadi kalau udara atmosfer (tekanan positif) mengalir langsung kedalam rongga pleura (tekanan negatif). Ketika tekanan udara dalam rongga pleura menjadi positif, paru akan kolaps pada sisi yang terkena sehingga terjadi penurunan kapasititas total paru, kapasitas vital paru dan kelenturan paru. Ketidakseimbangan ventilasi-perpusi akan menimbulkan hipoksia.
Pneumotoraks tertutup terjadi ketika udara memasuki rongga pleura dari dalam paru sehingga terjadi peningkatan tekanan pleura yang mencegah pengembangan paru pada inspirasi normal. Pneumotoraks spontan merupakan tipe lain pneumotoraks tertutup.

b. Pathway













2.5 Komplikasi
a. Tension pneumothorax dapat menyebabkan pembuluh darah kolaps, akibatnya pengisian jantung menurun sehingga tekanan darah menurun. Paru yang sehat juga dapat terkena dampaknya.
b. Pneumotoraks dapat menyebabkan hipoksia dan dispnea berat. Kematian dapat terjadi.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
Foto-toraks: defiasi mediastinal menunjukan adanya tegangan (tension). Umumnya didapat garis penguncupan paru  yang sangat halus (pleural-line). Bila disertai darah atau cairan lainnya akan tampak garis mendatar yang merupakan batas udara dan cairan (air-fluit level). Saturasi oksigen harus diukur, biasanya normal kecuali ada penyakit paru Ultrasonografi atau CT Scan Toraks baik dalam mendeteksi pneumotoraks kecil dan biasanya digunakan setelah biopsi paru perkutan (Swidarmoko Boed).
2.7 Penatalaksanaan
1. Menurut medis
Tatalaksana dari kelainan ini bergantung pada tipe, ukuran, manifestasi klinis, serta penyakit yang menyertainya. Ukuran pneumotoraks di tentukan berdasarkan jarak antara apeks paru dengan kubah ipsilateral rongga toraks, seperti yang terlihat pada rontgen toraks posisi tegak. Dikatakan pneumotoraks minimal bila jaraknya dalah <3 cm dan besar bila jaraknya >3 cm.
Pada kelianan yang minimal biasanya tidak membutuhkan adanya intervensi dan pasien cukup di obsevasi kecuali menetapnya udara yang tekumpul. Tidak dibutuhkan adanya tindakan yang lebih jauh lagi bila pada pemeriksaan foto rontgen menunjukan hasil yang sama dalam 24 jam. Pada pneumotoraks yang luas, dibutuhkan tatalaksan rawat inap.
Tatalaksana dari kelainan ini termasuk evakuasi udara dari ronngga pleura dan menutup kebocoran yang terjadi. Pada keadaan dimana udara yang terjebak memiliki volume yang cukup besar dan pasien mengalami kesulitan bernapas, dibutuhkan penusukan selang torakostomi dan pemberian tekanana negatif dengan menggunakan suction (-20 cmH2O).  Selang torakostomi ditusukan pada garis mid aksila sela iga 4-5. Paru harus mengalami ekspansi secara lambat karena ekspansi secara cepat akibat evakuasi udara yang terjebak, dapat menimbulkan komplikasi baru yaitu edema paru. Pada keadaan pneumotoraks yang cukup luas akan lebih baik untuk tidak memberikan tekanan negative secara terburu-buru namun sebaliknya membiarkan udara yang terjebak untuk keluar secara perlahan-lahan dan kemudian membaik secara spontan sebelum suction digunakan.
Suction dapat dipertahankan sampai tidak didapatkannya udara pada rongga toraks. Suction kemudian dapat dilepaskan namun selang WSG dapat diperthankan. Jika pada pemantauan selama 24 jam, tidak ditemukan adanya udara lagi, maka selang dapat dilepas. Bila udara tetap ditemukan, maka hal tersebut merupakan tanda adanya kerusakan permukaan lapisan pleura, parenkim paru atau fistula bronkopleura yang membutuhkan tindakan operasi.
2. Menurut non-Medis
a. Tension pneumotoraks adalah keadaan yang mengancam jiwa karena penumpukkan udara didalam ruang pleura akhirnya akan menyebabkan kolaps paru dan pembuluh darah didalamnya. Keadaan ini harus segera ditangani dengan selang atau jarum berukuran besar kedalam ruang pleura diikuti penghisapan udara keluar dari ruang tersebut.
b. Pneumotoraks spontan kecil atau pneumotoraks yang terjadi sekunder akibat trauma dada diobati dengan insersi selang yang dihubungkan dengan alat penghisap sampai cedera pleura sembuh. Setiap luka akibat penetrasi alat harus dibalut atau tertutup.

2.8 Diet atau Nutrisi
Tinggi kalori tinggi protein 2300 kkal + ekstra putih telur 3 x 2 butir / hari.

2.9 Asuhan Keperawatan
Pengkajian:
RIWAYAT PEMERIKSAAN FISIK
Pasien mengeluh awitan mendadak nyeri dada pleuritik akut yang terokalisasi pada paru yang sakit. Nyeri dada pleuritik biasanya disertai sesak napas, peningkatan kerja pernapasan, dan dispnea. Gerakan dinding dada mungkin tidak sama karena sisi yang sakit tidak mengembang seperti sisi yang sehat. Suara napas jauh atau tidak ada, semua tipe pneumotoraks. Tension pneumothorax adalah kondisi mengancam jiwa yang ditandai dengan gawat napas.

No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1 Ketidakefektifan pola napas
Definisi : inspirasi dan/ atau ekspirasi yang tidak memberi pentilasi
Batasan karakteristik:
Perubahan kedalaman pernapasan
Perubahan ekskursi dada
Mengambil posisi tiga titik
Bradibneu
Penurunan tekanan ekspirasi
Penurunan pentilasi semenit
Penurunan kapasitas vital
Dibneu
Peningkatan diameter anterior-posterior
Pernapasan cuping hidung
Ortopneu
Fase ekspirasi memanjang
Pernapasan bibir
Takipneu
Penggunaan otot aksesorios untuk bernapas
Factor yang berhubungan:
Ansietas
Posisi tubuh
Depormitas tulang
Depormitas dinding dada
Keletihan
Hiperventilasi
Sindrom hipoventilasi
Gangguan musculoskeletal
Kerusakan neurologis
Imaturitas neurologis
Disfungsi neuromuscular
Obesitas
Nyeri
Keletihan otot pernapasan cedera medulla spinalis NOC
Respiratory status: ventilation
Respiratory status: airway patency
Vital sign status
Kriteria hasil:
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dysapneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
Menunjukan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal tidak ada suara nafas abnormal)
Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)

NIC
Airway management
- Buka jalan nafas, gunakan teknik echinlift atau jaw thrust bila perlu
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
- Identifikasi pasien perlu nya pemasangan alat jalan nafas buatan
- Pasang mayo bila perlu
- Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Keluarkan secret dengan batuk atau suction
- Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
- Lakukan suction pada mayo
- Berikan bronkodilator bila perlu
- Berikan pelembab udara kasa basah NaCl lembab
- Atur intake untuk cairan mengoptimalkan kesimbangan
- Monitor respirasi dan status O2 Oxygen Therapy
- Bersihkan mulut, hidung dan sekret trakea
- Pertahankan jalan nafas yang paten
- Atur peralatan oksigenasi
- Monitor aliran oksigen
- Pertahankan posisi pasien
- Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
- Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi
Vital sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
- Catat adanya flukutasi tekanan darah
- Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
- Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
- Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktifitas
- Monitor kualitas dari nadi
- Monitor frekuensi dan irama pernafasan
- Monitor suara paru
- Monitor pola pernafasan abnormal
- Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
- Monitor sianos perifer
- Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
- Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

2 Kerusakan integritas kulit
Definisi: perubahan/gangguan epidermis dan/atau dermis
Batasan karakteristik:
Kerusakan lapisan kulit (dermis)
Gangguan permukaan kulit (epidermis)
Invasi struktur tubuh
Faktor yang berhubungan:
Eksternal:
- Zat kimia, radiasi
- Usia yang ekstrim
- Kelembaban
- Hipertermia, hipotermia
- Faktor mekanil (mis. Gaya gunting [shearing forces]
- Medikasi
- Lembab
- Imobilitasi fisik
Internal:
- Perubahan status cairan
- Perubahan pigmentasi
- Perubahan turgor
- Faktor perkembangan
- Kondisi ketidakseimbangan nutrisi (mis. Obesitas, emasiasi)
- Penurunan imunologis
- Penurunan sirkulasi
- Kondisi gangguan metabolic
- Gangguan sensasi
- Tonjolan tulang NOC
Tissue integrity : skin and mucous
Membranes
Hemodyalis akses
Kriteria hasil:
Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperature, hidrasi, pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada kulit
Perkusi jaringan baik
Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang
Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami NIC
Pressure management
- Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
- Hindari kerutan pada tempat tidur
- Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
- Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali
- Monitor kulit akan adanya kemerahan
- Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada darah yang tertekan
- Monitor aktifitas dan mobilisasi pasien
- Monitor status nutrisi pasien
- Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
Insision site care
- Membersihkan, memantau dan meningkatkan proses penyembuhan pada luka yang tutup dengan jahitan, kelip atau traples
- Monitor proses kesembuhan area insisi
- Monitor tanda dan gejala inpeksi pada area insisi
- Bersihkan area sekitar jahitan atau staples, menggunakan lidi kapas steril
- Gunakan preparat antiseptic, sesuai program
- Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau biarkan luak tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program
Dialysis acces maintenance



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pneumotoraks adalah kolapsnya sebagian atau seluruh paru yang terjadi sewaktu udara atau gas lain masuk keruang pleura yang mengelilingi paru. Terbagi berbagai jenis pneumotoraks; terbuka, spontan, dan tension pneumothorax.

3.2 Saran
Dalam makalah ini masih banyak yang belum Penulis bahas tentang Pneumotoraks. Oleh karna itu, diharapkan kepada Penulis lain yang ingin mengangkat tema yang sama, yaitu tentang pneumotoraks, agar lebih baik dan lebih detail lagi dalam membuat makalah tentang Pneumotoraks, karena masih ada bahkan masih banyak pembahasan tentang makalah kami ini yang penulis belum sampaikan dalam Makalah ini.